It’s Yesterday’s story….
Jum’at Subuh, lagi-lagi aku terlambat
bangun
, My Father udah tiba di Mushola lebih dulu dibandingkan diriku ini. Dia
sedang shalat saat aku tiba. Lalu saat aku mencoba mengatur posisi pembatas
(Jamaah wanita) My Father agak sedikit kesal, “Jangan ! Shalat dulu.. kalo
datang tuh Shalat dulu !”, “Lha?! Biasanya kan beres-beres dulu yang bisa
diberesin, nyalahin lampu baru Shalat deh..tapi yasudahlah..”, Batinku. “Coba
lihat, ini kan lagi ada masalah, jadi jangan diubah-ubah dulu”. JRENGGG
! “Oh,
ternyata Kotak Amal dibongkar (Again???!!!) dan disembunyikan persis di samping
pembatas wanita (yang ada semacam gordennya).”, Batinku. Jadi My Father agak
kesal tadi karena apa yang kulakukan akan menghilangkan barang bukti atau
setidaknya mengubah posisi bukti yang ada sehingga keaslian dari bukti bisa
diragukan.
, My Father udah tiba di Mushola lebih dulu dibandingkan diriku ini. Dia
sedang shalat saat aku tiba. Lalu saat aku mencoba mengatur posisi pembatas
(Jamaah wanita) My Father agak sedikit kesal, “Jangan ! Shalat dulu.. kalo
datang tuh Shalat dulu !”, “Lha?! Biasanya kan beres-beres dulu yang bisa
diberesin, nyalahin lampu baru Shalat deh..tapi yasudahlah..”, Batinku. “Coba
lihat, ini kan lagi ada masalah, jadi jangan diubah-ubah dulu”. JRENGGG
! “Oh,
ternyata Kotak Amal dibongkar (Again???!!!) dan disembunyikan persis di samping
pembatas wanita (yang ada semacam gordennya).”, Batinku. Jadi My Father agak
kesal tadi karena apa yang kulakukan akan menghilangkan barang bukti atau
setidaknya mengubah posisi bukti yang ada sehingga keaslian dari bukti bisa
diragukan.
Setelah Shalat sunnah, kulihat Bapak
sedang menelepon salah satu Marbot (yang sepertinya kurang bertanggung jawab
atas Mushola apalagi Marbot yang satu lagi..hoho..tapi yaa..namanya juga
pekerjaan sampingan, mungkin banyak kegiatan yang lebih penting yang harus
mereka kerjakan di luar sana). My Sister yang baru tiba pun melakukan hal sama
denganku mencoba mangatur posisi pembatas wanita dan tentu saja dilarang oleh
My Father. Aku coba melihat dan mengamati bukti serta keadaan sekitar
(kebanyakan baca Detective Conan & Sherlock Holmes, hahaha
). Jendela
terbuka dengan keadaan grendelnya yang masih sangat bagus, lampu bohlam yang
berada di dalam plastik hitam dikeluarkan dari lemari di dekat mimbar, lemari
di samping mimbar yang terbuka, kotak amal yang berada tepat di samping pembatas
wanita tutup bagian atasnya telah terbuka, begitu juga kotak amal berjalan yang
sudah terbuka juga. Yang Aneh ada surat Yasin dan beberapa buku Iqro yang sobek
dan berserakan di sekitar kotak amal. Tapi yang jadi pertanyaannya adalah lewat
darimana Mamus ini. Melihat kondisi jendela yang terbuka dengan grendel yang
masih bagus, mustahil Mamus ini lewat dari jendela saat masuk ke dalam. Aku
kembali duduk untuk berpikir sambil terus memandangi kondisi jendela dan pintu
mencari kemungkinan “pintu masuk” Mamus ini.
). Jendela
terbuka dengan keadaan grendelnya yang masih sangat bagus, lampu bohlam yang
berada di dalam plastik hitam dikeluarkan dari lemari di dekat mimbar, lemari
di samping mimbar yang terbuka, kotak amal yang berada tepat di samping pembatas
wanita tutup bagian atasnya telah terbuka, begitu juga kotak amal berjalan yang
sudah terbuka juga. Yang Aneh ada surat Yasin dan beberapa buku Iqro yang sobek
dan berserakan di sekitar kotak amal. Tapi yang jadi pertanyaannya adalah lewat
darimana Mamus ini. Melihat kondisi jendela yang terbuka dengan grendel yang
masih bagus, mustahil Mamus ini lewat dari jendela saat masuk ke dalam. Aku
kembali duduk untuk berpikir sambil terus memandangi kondisi jendela dan pintu
mencari kemungkinan “pintu masuk” Mamus ini.
My Father mulai menceritakan kondisi
sekitar dan menjabarkan pendapatnya. Dan intinya sama dengan pemikiranku, lewat
manakah si Mamus ini untuk masuk ke dalam dengan kondisi jendela yang terbuka
tetapi grendelnya masih bagus. Karena hal seperti itu Cuma bisa dilakukan dari
dalam. Jadi kemungkinannya, sebelum Mushola ditutup semalam (setelah pengajian
remaja) si Mamus sengaja membuka grendel jendela dan kemudian merapatkannya
seolah sudah ditutup. Tetapi kemungkinan ini hanya bisa terjadi jika yang
mengunci Mushola tidak teliti sebelum menutup Mushola dan Marbot sepertinya
tidak sebodoh itu. Tapi kemungkinan itu menjadi besar karena ternyata si Marbot
tidak ada di Mushola saat Mushola dikunci, yang mengunci Mushola adalah
anaknya. Kemungkinan kedua si Mamus bersembunyi di dalam Mushola sampai Mushola
ditutup. Tapi kemungkinan ini hanya lelucon yang melintas di kepalaku karena
hampir mustahil dia bersembunyi tanpa diketahui oleh orang lain karena semua
ruangan terbuka. Memang ada satu ruangan perabotan di samping Mimbar tapi
itupun mustahil karena yang memiliki kunci hanya My Family dan kedua Marbot.
Jadi lewat mana. Aku pun tidak datang karena memang ada pengajian juga di
rumah.
Saat My Father mencoba memikirkan
keanehan ini, mataku yang sejak tadi berputar mengawasi setiap celah di dalam
Mushola akhirnya melihat sesuatu yang berbeda dari semuanya. Yap, itu dia!
Jari-jari di atas Jendela telah hancur dibongkar menghasilkan lubang yang cukup
dimasuki oleh orang bertubuh sepertiku. “Bujug dah..dari tadi lubang segede gini
gak keliatan..masya Allah…”, batinku..hahaha…
Oke sekarang waktunya analisa. Mamus
masuk dengan berusaha membongkar jari-jari di atas jendela (belum tahu apa
namanya, nantilah browsing dim bah Google dulu, hehe..kurang wawasan) kemudian
memindahkan kotak amal ke samping pembatas wanita dan mulai membongkar isinya.
Dan setelah Frustasi tidak menemukan hasil yang memuaskan (karena ternyata hari
Rabu lalu semua kotak sudah diambil dan ditabung oleh My Father..haha) dia
mulai mencari barang lain, membuka lemari di samping Mimbar, mengeluarkan
plastik yang dikiranya berisi uang tapi ternyata bohlam yang sudah rusak (haha).
Setelah semua usahanya cukup (mungkin sia-sia, hehe
) dia keluar melalui jendela
yang bagian atasnya sudah dirusak dan merapatkan jendela kembali dan
menyembunyikan bagian-bagian jari-jari bagian atas jendela di samping depan
Mushola (ditemukan oleh My Father setelah Shalat Subuh). Oke semua jelas
mengenai kondisi Mushola seperti yang tadi kujabarkan. Mengenai surat-surat
yang berserakan, ternyata itu ulah bocah-bocah pengajian yang suka memasukkan
Iqra yang rusak atau lembaran surat Yasin ke dalam kotak amal.
Sebenarnya hal ini
bukan yang pertama kali, mungkin sudah yang ke-4 atau ke-5 kalinya. Tetapi
memang sampai saat ini belum ada tindakan khusus dari pihak pengurus Mushola
dikarenakan banyak hal. Padahal menurutku memang sudah seharusnya memasang
kamera CCTV kalau sudah begini keadaannya meskipun agak berlebihan karena
sepertinya tidak mungkin ada yang mencuri di rumah Allah seperti ini. But the
Fact…jelas berbeda. Meneliti sidik jari untuk menemukan pelakunya pun percuma
karena di Indonesia, warga Negara belum terdaFtar seperti di Negara lain
sehingga hanya dengan melihat sidik jari kita bisa menyelidiki siapa pelakunya
(mungkin baru coba untuk dimulai lewat E-KTP). Jadi sampai saat ini belum
diketahui siapa Mamus ini sebenarnya..tapi kuat dugaan, Mamus ini orang yang
dekat dengan Mushola, orang yang tahu seluk beluk Mushola, atau mungkin bahkan
orang yang sering ke Mushola… Tapi yang paling kusesalkan adalah kenapa bukan
aku yang membuka pintu Mushola saat subuh kalau hal ini sedang terjadi…(hehehe
) dia keluar melalui jendela
yang bagian atasnya sudah dirusak dan merapatkan jendela kembali dan
menyembunyikan bagian-bagian jari-jari bagian atas jendela di samping depan
Mushola (ditemukan oleh My Father setelah Shalat Subuh). Oke semua jelas
mengenai kondisi Mushola seperti yang tadi kujabarkan. Mengenai surat-surat
yang berserakan, ternyata itu ulah bocah-bocah pengajian yang suka memasukkan
Iqra yang rusak atau lembaran surat Yasin ke dalam kotak amal.
)
No comments:
Post a Comment